Ini puisi gue temuin di tumblr salah satu sahabat gue yang udah kaya kakak gue sendiri. Namanya kak Risti Kumalasari. bisa dipanggil ka risty, karis, kakris, kakty, karistykumal juga boleh asal orangnya ga tau hehehehe. gue kenal ka risty udah berapa lama ya? 2 taun lebih ada kali yaaaaa dari SMA. kenalnya lewat *uhuk* FB *uhuk* hahaha dan ga nyangka banget gue bisa segini deketnya sama kak Risty, padahal kenalnya cuma lewat FB dan ketemu pun ga sering - sering amat. hehehe, tapi yang jelas ka risty itu temen cerita gue yang paling yahuyy! kita bisa tahan SMSan atau telfonan cuma buat ceceritaan, dari yang ga penting ampe yang penting banget hahaha.
Dan pas suatu hari gue buka alamat tumblrnya kak Risty, gue nemuin satu post yang lumayan bikin gue termehek - mehek gara gara terharu hahaha nih linknya -->
.
Anggaplah aku seorang gadis lusuh yang mencoba menulis sebuah surat diatas daun lebar yang belum lama gugur dari istananya.
Untuk Kiki, salah satu shahabat terbaik yang pernah kumiliki.
Hai, apa kabar?
Maksudku, apakah keadaanmu sebaik keadaanku sekarang? Aku sangat baik, ingin kukatakan itu. Aku yakin aku sangat baik, karena aku masih bisa tersenyum didetik-detik dimana seseorang akan meninggalkanku, meninggalkan negeri tempat aku mengenalnya. Aku yakin aku sangat baik, karena aku sudah bisa mengatasi hatiku yang awalnya berat, menjadi rela, mau tak mau.
Yang teristimewa, kau.
Apa kau tau, aku punya 10 petak dihatiku, dan kau pernah mengisi hampir 7 petak sekaligus. Mungkin karena hal itu, aku pernah sangat membutuhkanmu. Ya, pernah.
Dan apa kau tau, aku punya banyak hal dalam hidupku yang tidak kuceritakan kepada siapapun kecuali kepadamu. Dan mungkin karena hal itu, aku pernah sangat takut kehilanganmu. Ya, pernah.
Dear Kiki,
Taukah kau, aku beranggapan bahwa tempat terbaik untuk berbagi cerita adalah diriku sendiri, itu sebelum aku mengenalmu. Dan kau meruntuhkan anggapan itu. Kau pendengar yang baik, kau pencerita yang baik, kau-benar-benar-teman-baik, Kiki.
Beberapa waktu yang lalu, aku dikejutkan oleh sebuah kabar, bahwa salah satu shahabat terbaikku akan terbang ke negeri matahari terbit untuk melanjutkan langkahnya meraih cita-cita. Kau tau apa yang kurasakan saat itu? Tau? Hebat kalau kau tau, karena aku sendiri saja tidak bisa meraba apa yang aku rasa.
Aku tak bisa mengatakan aku sedih ditengah-tengah rasa banggaku atas apa yang diraihnya. Tapi aku juga tidak bisa mengatakan aku senang bersamaan dengan rasa berat hati untuk membiarkannya pergi jauh.
Mungkin aku hanya tak sanggup menggambarkan betapa besarnya kebangganku terhadapmu.
Cepatlah kau pergi, lalu kembali dengan membawa jutaan keping prestasi untuk negeri ini.
Keberatan hatiku,
Bukan berarti aku tidak mendukungmu..
Aku… Aku hanya….
Kau tau, meskipun siap, tapi aku tak pernah membayangkan jika aku kehilangan teman sepertimu.
Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, apakah aku akan menemui kawan sepertimu lagi? Dan hatiku menggantungkan pertanyaanku itu. Ia tidak menjawab. Kurasa, ia ingin menjawab “Tidak”, tapi mungkin ia takut aku sedih mendengar jawaban itu.
Aku tau setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing, dan keistimewaanmu adalah salah satu yang paling mendekati sempurna. Ya, salah satu yang sangat aku syukuri pernah singgah dihidupku.
Terimakasih, Kiki.
Karena kau berkenan merendahkan hatimu untuk bershahabat denganku.
Mungkin aku hanya hal kecil yang tak pantas berdiri disampingmu.
Tapi, apa yang harus kukatakan jika pada kenyataannya hatiku nyaman bercengkrama dengan hatimu?
Aku hanya tidak tau dimana mencari teman sepertimu.
Itu salah satu alasanku pernah tidak rela melepaskanmu.
Aku yakin,
Suatu hari nanti aku akan bertemu denganmu, dan menatapmu penuh rasa bangga dan terharu.
Aku yakin.
Maaf, jika aku pernah sangat mengganggu hidupmu.
Maaf, jika aku belum menemukan bagaimana cara untuk menyenangkanmu.
Hujan baru saja berhenti.
Aku memikirkanmu sepanjang air langit itu mengguyur tubuhku.
Aku yang basah kuyup ini berjalan menyusuri gang kumuh menuju rumahku.
Lalu aku menemukan sebuah daun yang belum lama lepas dari rantingnya.
Lalu aku duduk, dan menulis surat ini diatasnya.
Kiki,
Menurutmu, dalam keadaan seperti ini, apa aku pantas memanjatkan doa pada Sang Pencipta?
Aku tak yakin.
Bagaimana jika aku menitipkan doa itu padamu? Kau mau membantuku? Mau?
Akan ku tuliskan harapanku.
Ketika kau selesai membaca surat ini, tolong panjatkan hal itu pada Tuhanmu, yang tentunya juga Tuhanku.
Begini kira-kira doaku:
Tuhan…
Aku tak punya banyak kata untuk menunjukkan rasa syukurku padaMu atas kehadirnnya.
Aku tak tau banyak cara untuk menjaganya.
Tuhan, aku hanya ingin yang terbaik baginya, disini, atau disana.
Aku ingin Kau menjaganya.
Aku ingin Kau menulis namanya dalam daftar hamba-hamba yang Kau cinta.
Aku ingin Kau mengirimkan orang-orang baik untuk membahagiakannya.
Tuhan, aku tau aku lancang.
Tapi aku ingin Kau mengabulkan doa seseorang yang memanjatkan harapan-harapanku, Tuhan.
Aku ingin Kau bersamanya, bersama dia yang menucapkan doa-doaku ini.
Aku ingin, dia, baik-baik saja.
Amin.
Sekian.
Maaf jika aku merepotkanmu, Kiki.
Ngomong-ngomong, apa kau bertanya bagaimana aku bisa menuliskan kalimat sebanyak ini hanya di sehelai daun?
Aku tidak menulisnya dengan pena, kawan, aku menulisnya dengan hati.
Aku rasa cukup.
Aku sudah mulai kedinginan.
Aku akan pulang dan membuat secangkir teh.
Aku akan mencampur teh itu dengan suaramu, agar hangatnya meresap sampai ke tulang rusukku.
Lalu kutambahkan beberapa tetes senyummu, agar manisnya bertahan lama di lidahku.
Daun ini kuletakkan diatap rumahku, berharap ada seekor ‘owl’ yang mengantarkannya kepadamu.
Jika surat ini sampai padamu, tak perlu kabari aku.
Karena aku tau ini pasti sampai :)
Salam segalanya,
Risty.
kalo dalem keadaan biasa mungkin kak risty udah gue ketawain gara gara sok mellow gitu hehehe. tapi karena itu dalam keadaan gue mau pergi, i teared up A LOT after reading that hehehe :") pokoknya kak risty, if you read this, i want you to know that i cherish eveeeeryyyy little thing we share. thank you for everything and YOU ARE MY BEST SISTA EVER! :))